|
![]() |
|---|







Tokoh aku bergaul dengan berbagai manusia, hewan, dan alam. Dia bertualang bersama Bawor-¬ tobang (pembantu) tentara, jatuh cinta pertama dengan Teteh-penjual karedok; main mata dengan Mbak Yus yang misterius. Tokoh aku juga akrab dengan keluarga bromocorah (penjahat) di Hutan Bambu dengan tokoh-tokoh unik: Yitno-pemimpin golongan hitam dan kakak- beradik Kunti dan Lanak, serta seekor burung tengkek yang aneh seperti pemiliknya: Ki Tengkek. Memoar ini ditulis dengan ringan- jenaka tetapi juga pahit-getir.











Tokoh “Aku” adalah seorang penulis dalam Lapar, yang menggambarkan bagaimana seseorang bertekad mempertahankan nilai hidup yang diyakininya, meskipun ditempa oleh pahit getirnya kehidupan yang dialaminya. Semangatnya yang tinggi untuk tetap menulis, mengingatkan kita pada “Aku” Chairil Anwar, yang menyepak, menerjang membawa luka, dan bisa berlari, serta mau hidup seribu tahun lagi.
Membaca karya Knut Hamsun, Lapar, akan terkesan dengan gairah semangat hidupnya yang luar biasa, dan pembaca akan menyadari mengapa Hamsun memenangkan Hadiah Nobel Kesusastraan.













Tokoh aku bergaul dengan berbagai manusia, hewan, dan alam. Dia bertualang bersama Bawor-¬ tobang (pembantu) tentara, jatuh cinta pertama dengan Teteh-penjual karedok; main mata dengan Mbak Yus yang misterius. Tokoh aku juga akrab dengan keluarga bromocorah (penjahat) di Hutan Bambu dengan tokoh-tokoh unik: Yitno-pemimpin golongan hitam dan kakak- beradik Kunti dan Lanak, serta seekor burung tengkek yang aneh seperti pemiliknya: Ki Tengkek. Memoar ini ditulis dengan ringan- jenaka tetapi juga pahit-getir.











Tokoh “Aku” adalah seorang penulis dalam Lapar, yang menggambarkan bagaimana seseorang bertekad mempertahankan nilai hidup yang diyakininya, meskipun ditempa oleh pahit getirnya kehidupan yang dialaminya. Semangatnya yang tinggi untuk tetap menulis, mengingatkan kita pada “Aku” Chairil Anwar, yang menyepak, menerjang membawa luka, dan bisa berlari, serta mau hidup seribu tahun lagi.
Membaca karya Knut Hamsun, Lapar, akan terkesan dengan gairah semangat hidupnya yang luar biasa, dan pembaca akan menyadari mengapa Hamsun memenangkan Hadiah Nobel Kesusastraan.
































































































































































































































































































































































































































































IPB Press didirikan pada 6 April 2009 merupakan perusahaan penerbitan dan percetakan dengan badan hukum perseroan terbatas. Dengan paradigma penerbit berbasis universitas, IPB Press senantiasa berupaya dalam mengembangkan literasi, membangunan masyarakat berbasis ilmu pengetahuan, memperluas wawasan masyarakat, mengantisipasi ledakan ilmu pengetahuan, dan mengibarkan bendera perguruan tinggi.
Pada tahun 2018 IPB Press mendapatkan penghargaan dari Perpustakaan Nasional Indonesia berupa Anugerah Wajib Serah Tertib Undang-Undang Deposit Tahun 2018 untuk Jenis Karya Cetak Monograf. Dengan semangat nilai korporasi ACTION; advanced, competent, trusted, integrity, optimist, dan never give up, IPB Press menjadi solusi bagi kebutuhan Anda.