|
![]() |
|---|









Namun sayangnya, wilayah perbatasan yang berperan penting sebagai batas teritorial negara, masih tertinggal dibanding daerah lain yang bukan perbatasan. Hal ini antara lain terlihat dari terbatasnya ketersediaan sarana dan prasarana untuk pemenuhan kebutuhan dasar penduduknya, sehingga mereka mempunyai ketergantungan yang tinggi terhadap negara tetangga.
Buku Kedaulatan Indonesia di Wilayah Perbatasan: Perspektif Multidimensi membahas kedaulatan Indonesia dari berbagai perspektif, mencakup politik, ekonomi, dan sosial budaya. Pembahasan difokuskan pada beberapa isu, yaitu pengelolaan pertahanan negara dan pemeliharaan rasa kebangsaan di wilayah perbatasan, ketergantungan perekonomian penduduk perbatasan terhadap negara tetangga dan upaya yang dilakukan untuk menciptakan kemandirian ekonomi, pemenuhan kebutuhan dasar penduduk perbatasan, khususnya pendidikan, kesehatan, dan kesempatan ekonomi, serta isu nasionalisme dan relasi sosial warga perbatasan. Buku ini diharapkan dapat menjadi referensi bagi berbagai pihak yang memberi perhatian pada isu perbatasan, khususnya dalam perencanaan upaya-upaya untuk mempercepat pembangunan di wilayah tersebut. Dengan demikian, ketimpangan dengan wilayah bukan perbatasan dan bahkan dengan negara tetangga dapat dikurangi atau jika memungkinkan dihilangkan sama sekali.














Begitu juga dengan peristiwa di sekitar Gerakan 30 September 1965, betapapun mungkin unsur-unsur esensial tentang ”siapa-siapa” yang berada di balik peristiwa ”malam jahanam” itu masih diperdebatkan. Kalau demikian masalahnya, maka timbul juga pertanyaan dapatkah "kata akhir" dari kontroversi yang telah berumur lebih dari empat puluh tahun ini ditemukan? Adalah tugas sejarawan untuk senantiasa berusaha mendapatkan pemahaman kolektif tentang masa lalu melalui proses dialog kritis yang panjang dan kompleks—"sesama mereka, dengan masyarakat luas, dan dengan cacatan sejarah".
Untuk itulah buku ini berusaha mengungkapkan berbagai teori tentang siapa dalang di balik peristiwa 1965 yang merupakan ‘batas sejarah’ dari dinamika bangsa Indonesia!










Namun sayangnya, wilayah perbatasan yang berperan penting sebagai batas teritorial negara, masih tertinggal dibanding daerah lain yang bukan perbatasan. Hal ini antara lain terlihat dari terbatasnya ketersediaan sarana dan prasarana untuk pemenuhan kebutuhan dasar penduduknya, sehingga mereka mempunyai ketergantungan yang tinggi terhadap negara tetangga.
Buku Kedaulatan Indonesia di Wilayah Perbatasan: Perspektif Multidimensi membahas kedaulatan Indonesia dari berbagai perspektif, mencakup politik, ekonomi, dan sosial budaya. Pembahasan difokuskan pada beberapa isu, yaitu pengelolaan pertahanan negara dan pemeliharaan rasa kebangsaan di wilayah perbatasan, ketergantungan perekonomian penduduk perbatasan terhadap negara tetangga dan upaya yang dilakukan untuk menciptakan kemandirian ekonomi, pemenuhan kebutuhan dasar penduduk perbatasan, khususnya pendidikan, kesehatan, dan kesempatan ekonomi, serta isu nasionalisme dan relasi sosial warga perbatasan. Buku ini diharapkan dapat menjadi referensi bagi berbagai pihak yang memberi perhatian pada isu perbatasan, khususnya dalam perencanaan upaya-upaya untuk mempercepat pembangunan di wilayah tersebut. Dengan demikian, ketimpangan dengan wilayah bukan perbatasan dan bahkan dengan negara tetangga dapat dikurangi atau jika memungkinkan dihilangkan sama sekali.














Begitu juga dengan peristiwa di sekitar Gerakan 30 September 1965, betapapun mungkin unsur-unsur esensial tentang ”siapa-siapa” yang berada di balik peristiwa ”malam jahanam” itu masih diperdebatkan. Kalau demikian masalahnya, maka timbul juga pertanyaan dapatkah "kata akhir" dari kontroversi yang telah berumur lebih dari empat puluh tahun ini ditemukan? Adalah tugas sejarawan untuk senantiasa berusaha mendapatkan pemahaman kolektif tentang masa lalu melalui proses dialog kritis yang panjang dan kompleks—"sesama mereka, dengan masyarakat luas, dan dengan cacatan sejarah".
Untuk itulah buku ini berusaha mengungkapkan berbagai teori tentang siapa dalang di balik peristiwa 1965 yang merupakan ‘batas sejarah’ dari dinamika bangsa Indonesia!


























































































































































































































































































































































































































































IPB Press didirikan pada 6 April 2009 merupakan perusahaan penerbitan dan percetakan dengan badan hukum perseroan terbatas. Dengan paradigma penerbit berbasis universitas, IPB Press senantiasa berupaya dalam mengembangkan literasi, membangunan masyarakat berbasis ilmu pengetahuan, memperluas wawasan masyarakat, mengantisipasi ledakan ilmu pengetahuan, dan mengibarkan bendera perguruan tinggi.
Pada tahun 2018 IPB Press mendapatkan penghargaan dari Perpustakaan Nasional Indonesia berupa Anugerah Wajib Serah Tertib Undang-Undang Deposit Tahun 2018 untuk Jenis Karya Cetak Monograf. Dengan semangat nilai korporasi ACTION; advanced, competent, trusted, integrity, optimist, dan never give up, IPB Press menjadi solusi bagi kebutuhan Anda.