ipbprinting - Memajukan UKM Indonesia

arrow
Dimensi-Dimensi Puasa

Marhaban Ya Ramadhan. Bagaimana kita memaknai hikmah puasa secara multi dimensi? Setidaknya ada empat dimensi penting hasil menjalankan ibadah puasa Ramadhan baik pada level individual maupun sosial yaitu dimensi spiritual intelligence, physical intelligence, emotional intelligence, dan social intelligence.

Pertama, adalah dimensi spiritual intelligence, yang menekankan pentingnya hubungan ilahiah yang bersifat transendental. Landasan puasa adalah keimanan dan memang puasa diperintahkan hanya kepada orang-orang yang beriman sehingga bunyi QS Al Baqarah 183 adalah "Yaa Ayyuhalladzi na aamanu" dan bukan "yaa ayyuhal muslimun". Karena itu niat berpuasa pun mestinya berbasis pada keimanan. Sebagaimana Hadist Nabi yang mengatakan "Barangsiapa berpuasa karena iman dan ikhlas maka akan diampuni dosa2nya terdahulu". Jadi iman menjadi modal utama puasa, dan puasa juga ditujukan untuk menambah keimanan. Dengan puasa maka modal iman akan terus bertambah. Mekanisme pertambahan keimanan tersebut tercermin dari tuntutan intensitas ibadah selama bulan Ramadhan : perbanyakan sholat sunnah, tadarus al quran, i'tikaf, dan dzikir. Tidak lain pertambahan keimanan ini adalah bagian dari proses menuju status taqwa, yakni status yang dikejar oleh setiap mukmin yang berpuasa. Karena status inilah yang tertinggi di mata Allah SWT.

Kedua, dimensi physical intelligence, yang menekankan benefit orang berpuasa secara biologis. Secara biologis, berpuasa sangat menyehatkan karena puasa 30 hari secara tidak langsung merupakan aktivitas detox yang penting bagi tubuh kita. Ahli kesehatan dan gizi manapun menempatkan puasa sebagai aktivitas fungsional menunjang kesehatan tubuh. Namun demikian tubuh sehat bukanlah segalanya. Tubuh sehat adalah salah satu prasyarat agar jiwa juga sehat, sebagaimana pepatah di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang sehat. Bagaimana puasa menumbuhkan jiwa yang sehat?

Ketiga, dimensi self control dan emotional intelligence. Hakikat puasa adalah pengendalian diri. Puasa melatih orang untuk mampu mengendalikan diri baik dalam aspek nafsu maupun emosi. Kontrol terhadap nafsu biologis makin dilatih, seperti pembatasan secara syariah tentang konsumsi makanan dan minuman. Kontrol terhadap nafsu ekonomis juga dilatih, seperti perintah perbanyakan sedekah. Sementara itu kontrol terhadap emosi juga dilatih, seperti menahan marah, sabar, dan mampu mengelola emosi sehingga berdampak pada perilakunya terhadap orang lain. Inilah yang dimaksud dengan kuatnya emotional intelligence, yang menurut Cardon terdiri dari kuatnya self awareness, self management, empathy, dan relationship management. Ujung dari kuatnya emotional intelligence adalah good interpersonal skill. Dengan demikian puasa melatih untuk mengelola emosi diri yang selanjutnya dapat menciptakan hubungan sosial yang baik.

Keempat, adalah dimensi social intelligence bahwa orang yang berpuasa makin meningkat kecerdasan dalam membangun kehidupan sosial. Bagaimana hal itu bisa terjadi? Emotional intelligence yang didapat dari puasa dapat menjadi bekal bagi menguatnya social intelligence. Namun ada sisi lain yang perlu dikaji dalam social intelligence ini, yakni tentang kepercayaan (trust). Ada keyakinan orang berpuasa itu jujur. Karena memang puasa memaksa orang berkata benar dan melatih kejujuran. Secara individual, kejujuran akan berujung pada kesuksesan seseorang sebagaimana hasil penelitian Stanley yang menempatkan kejujuran sebagai faktor nomor satu dari 100 faktor penentu kesuksesan di dunia kerja. Sementara itu secara sosial, kejujuran berujung kepada terciptanya kepercayaan. Karena asumsi jujurnya orang yang berpuasa, maka pada bulan puasa secara umum tingkat kepercayaan orang lain kepada orang yang sedang berpuasa akan meningkat. Dengan semakin banyak orang berpuasa mestinya semakin banyak orang dapat dipercaya. Dengan semakin banyak nya orang yang dapat dipercaya maka semakin mencirikan terciptanya high trust society yakni masyarakat dengan rasa saling percaya yang tinggi. Inilah yang oleh Francis Fukuyama menjadi modal sosial penting bagi kemajuan bangsa. Menurut Fukuyama bangsa yang maju adalah bangsa yang memiliki modal sosial tinggi, yakni high trust society seperti Jepang, jerman dan negara maju lainnya. Dengan demikian puasa bisa memberi andil bagi terciptanya high trust society dan kemudian membuat bangsa menjadi lebih maju. Persoalannya adalah apakah suasana bulan puasa yang penuh dengan saling percaya tersebut dapat diteruskan pada 11 bulan berikutnya? Bila jawabannya ya maka tesis bahwa puasa dapat meningkatkan kemajuan bangsa akan terbukti.

Dimensi social intelligence yang diperkuat dengan kemampuan kita membangun trust society di atas, semakin diperkaya dengan spirit solidaritas sosial dengan memberi kepada orang membutuhkan. Puasa melatih orang untuk peduli sesama. Mekanisme zakat, infak, dan sedekah (ZIS) selama bulan puasa adalah instrumen utamanya. Ditambah lagi dengan mekanisme fidyah bagi yang tidak berpuasa karena alasan tertentu semakin memperlihatkan dimensi sosial puasa. Dengan demikian puasa tidak saja memperkuat social intelligence dengan high trust society tetapi juga anti kesenjangan. Semangat anti kesenjangan ini akan makin efektif bila seluruh mekanisme ZIS terinstitusionalisasi dengan baik. Dengan hikmah puasa pada empat dimensi di atas semoga semakin membuat kita yakin bahwa perintah puasa dapat menciptakan kita sebagai manusia seutuhnya yang sehat spiritual, jiwa, raga dan sehat secara sosial.

 

Bogor, 5 Mei 2019

(Materi disampaikan pada Tausiyah di Masjid Al Hurriyah Kampus IPB Dramaga)

Selayang Pandang Rebranding: “IPB University”

Mengapa perlu melakukan rebranding?

Branding ibarat sebuah kehidupan, yaitu proses yang tidak pernah berhenti. Dalam perjalanannya, kita perlu berhenti sejenak dan mengevaluasi ‘kesehatan brand’ yang diperjuangkan selama ini, dengan menguji seberapa berartinya brand tersebut di mata stakeholders.

Ada berbagai pendekatan untuk mengevaluasi kesehatan brand. Ada cara 'jalan pintas' versus 'penelusuran secara seksama'. Oleh karena layanan dalam pendidikan tinggi ini bersifat jasa yang mempunyai multiple stakeholder, maka jalan pintas tidak direkomendasikan. Pendekatan Ethnography Marketing yang dipilih dalam riset dalam rangka rebranding ini merupakan jalan panjang penelusuran untuk memahami konsumen secara holistik dari berbagai sudut dan perspektif.

Dalam hal ini, IPB melalui profesional telah melakukan rangkaian penelusuran data primer maupun sekunder dengan berbagai teknik yaitu workshop internal dengan tokoh kunci, wawancara mendalam dengan future students, orang tua, guru-guru di sekolah, dan melibatkan tokoh kunci di institusi, baik dalam diskusi terpisah secara individu maupun diskusi terfokus dalam kelompok.

Hasil kajian ilmiah tentang perubahan brand IPB tersebut sudah disampaikan dalam berbagai pertemuan dengan stakeholder, termasuk dalam rapat Senat Akademik. Nama IPB University dan tagline baru ini sudah disahkan oleh Majelis Wali Amanat (MWA) IPB melalui Keputusan No 7/IT3.MWA/OT/2019 Tentang Pengesahan Rebranding Dengan Nama IPB University.

Sejak kapan inisiasi perubahan nama dilakukan?

  • Pada masa Rektor Prof.Dr.Ir. Andi Hakim Nasution ” (1978-1987), sudah tercetus rencana perubahan nama menjadi Universitas Ilmu Pengetahuan Bogor, disingkat “Universitas IPB”.
  • Di masa Rektor Prof.Dr.Ir. Aman Wirakartakusumah (1998-2002), sudah dilakukam kajian untuk perubahan menjadi universitas.
  • Di masa Rektor Prof. Dr. Ir. Herry Suhardiyanto (2007-2017), disampaikan mandat berupa Ketetapan Majelis Wali Amanat (MWA) kepada Rektor untuk melakukan pengkajian perubahan nama.
  • Pada masa Rektor Dr. Arif Satria,  sejak tahun 2018 telah dilakukan kajian perubahan nama dalam bingkai rebranding.

 

Tahapan apa saja yang sudah dilakukan IPB untuk mendapatkan brand baru yang lebih komunikatif?

  • Internal Insights: Pengumpulan insight dari stakeholder internal.
  • External Insight: Pengumpulan insight dengan wawancara dari stakeholder eksternal.
  • Menerjemahkan insight yang didapat untuk repositioning dan renaming.
  • Sosialisasi brand baru ke stakeholder internal dan eksternal.
  • Secara bertahap mengimplementasikan brand baru ke dalam berbagai produk marketing communication (website, buku profil, kartu nama, merchandise, dan lain-lain).

 

Apakah motto/tagline IPB juga berubah?

Ya. Motto/tagline yang sebelumnya adalah “Mencari dan Memberi yang Terbaik (Searching and Serving the Best)” dirasakan sudah menjadi sebuah keharusan dan kekuatan Institusi. Untuk menghadapi persaingan yang semakin ketat, maka IPB University merasakan kebutuhan untuk memiliki janji baru yang lebih distinctive, berbeda dari universitas lain. Hasil riset dan diskusi dengan para stakeholder kunci diperoleh sebuah rangkaian kata janji baru yaitu: “Inspiring Innovation with Integrity” (versi pendek), dan versi panjangnya adalah “Inspiring Innovation with Integrity in Agriculture, Ocean, Biosciences for a Sustainable World”.

 

Motto/tagline ini memberikan penegasan terhadap diferensiasi dibandingkan perguruan tinggi lain:

  • Inspiring: mencerahkan, memberikan ide
  • Innovation: inovasi yang handal, bisa digunakan dan diterapkan
  • Integrity: pribadi yang jujur dan memiliki karakter kuat (nilai-nilai moral tinggi)

Ketiga kata kunci ini telah diaplikasikan dalam pengembangan keilmuan di aspek pertanian, kelautan, biosains untuk mewujudkan kehidupan yang berkelanjutan.

 

Apakah nama IPB University juga akan digunakan dalam dokumen resmi seperti ijazah, transkrip, dokumen kepegawaian dan sebagainya?

Seluruh dokumen resmi yang terkait dengan negara, tetap akan menggunakan nama “Institut Pertanian Bogor” sebagai nama resmi institusi sebagaimana tercantum dalam Peraturan Pemerintah (PP) No 66 Tahun 2013 tentang Statuta Institut Pertanian Bogor. Namun untuk kepentingan komunikasi internal dan marketing communication akan digunakan sebutan “IPB University”.

 

Bagaimana dengan dokumen-dokumen untuk keperluan internasional seperti akreditasi, jurnal, dan lain-lain?

Seluruh dokumen yang terkait dengan keperluan internasional, per 1 Juli 2019 sudah harus menggunakan nama “IPB University”. Pengenalan nama baru ini di tingkat global akan melalui proses transisi. Selama masa transisi, penulisan afiliasi lembaga dalam penulisan karya ilmiah atau manuscript  jurnal internasional menjadi:  IPB University (Bogor Agricultural University). Cara penulisan seperti ini juga akan dipakai dalam proses-proses pengumpulan data perankingan dunia dan indeksasi Scopus.

 

Mengapa kata “University” dipilih untuk menggantikan kata “Institut” yang selama ini sudah melekat di IPB?

Sejak lama telah berlangsung dualisme dalam terjemahan Institut Pertanian Bogor ke dalam Bahasa Inggris. Walaupun terjemahan yang lebih sesuai adalah “Bogor Agricultural Institute”, namun sudah lama IPB menggunakan  “Bogor Agricultural University”. Bahkan ada juga yang menuliskan sebagai Institut Pertanian Bogor.  Perbedaan ini seringkali membuahkan kebingungan dalam penulisannya sebagai afiliasi lembaga dalam jurnal internasional.

Alasan mengapa dipilih kata University, diawali dari pemikiran bahwa telah lama IPB berkembang dan menawarkan program studi yang lebih banyak dan luas dari waktu ke waktu. Oleh karenanya, nama “IPB University” sebagai brand akan membangun asosiasi yang lebih luas dan menjanjikan value lebih tinggi.

Nama singkat  juga akan memberikan ruang lebih luas untuk berasosiasi dengan hal-hal yang bersifat kekinian dan modern.  Saat ini IPB tidak hanya merupakan singkatan, tetapi juga sebagai sebuah brand.  Ada sejumlah corporate brand yang menempuh strategi ini untuk tidak hanya memberikan simplicity dalam pengucapannya, tetapi juga agar lebih solid dalam exposure dan menjelaskan janji brand-nya. Untuk itulah yang dilakukan adalah mengubah brand “Bogor Agricultural University” menjadi “IPB University”.

Dimensi-Dimensi Puasa

Marhaban Ya Ramadhan. Bagaimana kita memaknai hikmah puasa secara multi dimensi? Setidaknya ada empat dimensi penting hasil menjalankan ibadah puasa Ramadhan baik pada level individual maupun sosial yaitu dimensi spiritual intelligence, physical intelligence, emotional intelligence, dan social intelligence.

Pertama, adalah dimensi spiritual intelligence, yang menekankan pentingnya hubungan ilahiah yang bersifat transendental. Landasan puasa adalah keimanan dan memang puasa diperintahkan hanya kepada orang-orang yang beriman sehingga bunyi QS Al Baqarah 183 adalah "Yaa Ayyuhalladzi na aamanu" dan bukan "yaa ayyuhal muslimun". Karena itu niat berpuasa pun mestinya berbasis pada keimanan. Sebagaimana Hadist Nabi yang mengatakan "Barangsiapa berpuasa karena iman dan ikhlas maka akan diampuni dosa2nya terdahulu". Jadi iman menjadi modal utama puasa, dan puasa juga ditujukan untuk menambah keimanan. Dengan puasa maka modal iman akan terus bertambah. Mekanisme pertambahan keimanan tersebut tercermin dari tuntutan intensitas ibadah selama bulan Ramadhan : perbanyakan sholat sunnah, tadarus al quran, i'tikaf, dan dzikir. Tidak lain pertambahan keimanan ini adalah bagian dari proses menuju status taqwa, yakni status yang dikejar oleh setiap mukmin yang berpuasa. Karena status inilah yang tertinggi di mata Allah SWT.

Kedua, dimensi physical intelligence, yang menekankan benefit orang berpuasa secara biologis. Secara biologis, berpuasa sangat menyehatkan karena puasa 30 hari secara tidak langsung merupakan aktivitas detox yang penting bagi tubuh kita. Ahli kesehatan dan gizi manapun menempatkan puasa sebagai aktivitas fungsional menunjang kesehatan tubuh. Namun demikian tubuh sehat bukanlah segalanya. Tubuh sehat adalah salah satu prasyarat agar jiwa juga sehat, sebagaimana pepatah di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang sehat. Bagaimana puasa menumbuhkan jiwa yang sehat?

Ketiga, dimensi self control dan emotional intelligence. Hakikat puasa adalah pengendalian diri. Puasa melatih orang untuk mampu mengendalikan diri baik dalam aspek nafsu maupun emosi. Kontrol terhadap nafsu biologis makin dilatih, seperti pembatasan secara syariah tentang konsumsi makanan dan minuman. Kontrol terhadap nafsu ekonomis juga dilatih, seperti perintah perbanyakan sedekah. Sementara itu kontrol terhadap emosi juga dilatih, seperti menahan marah, sabar, dan mampu mengelola emosi sehingga berdampak pada perilakunya terhadap orang lain. Inilah yang dimaksud dengan kuatnya emotional intelligence, yang menurut Cardon terdiri dari kuatnya self awareness, self management, empathy, dan relationship management. Ujung dari kuatnya emotional intelligence adalah good interpersonal skill. Dengan demikian puasa melatih untuk mengelola emosi diri yang selanjutnya dapat menciptakan hubungan sosial yang baik.

Keempat, adalah dimensi social intelligence bahwa orang yang berpuasa makin meningkat kecerdasan dalam membangun kehidupan sosial. Bagaimana hal itu bisa terjadi? Emotional intelligence yang didapat dari puasa dapat menjadi bekal bagi menguatnya social intelligence. Namun ada sisi lain yang perlu dikaji dalam social intelligence ini, yakni tentang kepercayaan (trust). Ada keyakinan orang berpuasa itu jujur. Karena memang puasa memaksa orang berkata benar dan melatih kejujuran. Secara individual, kejujuran akan berujung pada kesuksesan seseorang sebagaimana hasil penelitian Stanley yang menempatkan kejujuran sebagai faktor nomor satu dari 100 faktor penentu kesuksesan di dunia kerja. Sementara itu secara sosial, kejujuran berujung kepada terciptanya kepercayaan. Karena asumsi jujurnya orang yang berpuasa, maka pada bulan puasa secara umum tingkat kepercayaan orang lain kepada orang yang sedang berpuasa akan meningkat. Dengan semakin banyak orang berpuasa mestinya semakin banyak orang dapat dipercaya. Dengan semakin banyak nya orang yang dapat dipercaya maka semakin mencirikan terciptanya high trust society yakni masyarakat dengan rasa saling percaya yang tinggi. Inilah yang oleh Francis Fukuyama menjadi modal sosial penting bagi kemajuan bangsa. Menurut Fukuyama bangsa yang maju adalah bangsa yang memiliki modal sosial tinggi, yakni high trust society seperti Jepang, jerman dan negara maju lainnya. Dengan demikian puasa bisa memberi andil bagi terciptanya high trust society dan kemudian membuat bangsa menjadi lebih maju. Persoalannya adalah apakah suasana bulan puasa yang penuh dengan saling percaya tersebut dapat diteruskan pada 11 bulan berikutnya? Bila jawabannya ya maka tesis bahwa puasa dapat meningkatkan kemajuan bangsa akan terbukti.

Dimensi social intelligence yang diperkuat dengan kemampuan kita membangun trust society di atas, semakin diperkaya dengan spirit solidaritas sosial dengan memberi kepada orang membutuhkan. Puasa melatih orang untuk peduli sesama. Mekanisme zakat, infak, dan sedekah (ZIS) selama bulan puasa adalah instrumen utamanya. Ditambah lagi dengan mekanisme fidyah bagi yang tidak berpuasa karena alasan tertentu semakin memperlihatkan dimensi sosial puasa. Dengan demikian puasa tidak saja memperkuat social intelligence dengan high trust society tetapi juga anti kesenjangan. Semangat anti kesenjangan ini akan makin efektif bila seluruh mekanisme ZIS terinstitusionalisasi dengan baik. Dengan hikmah puasa pada empat dimensi di atas semoga semakin membuat kita yakin bahwa perintah puasa dapat menciptakan kita sebagai manusia seutuhnya yang sehat spiritual, jiwa, raga dan sehat secara sosial.

 

Bogor, 5 Mei 2019

(Materi disampaikan pada Tausiyah di Masjid Al Hurriyah Kampus IPB Dramaga)

Selayang Pandang Rebranding: “IPB University”

Mengapa perlu melakukan rebranding?

Branding ibarat sebuah kehidupan, yaitu proses yang tidak pernah berhenti. Dalam perjalanannya, kita perlu berhenti sejenak dan mengevaluasi ‘kesehatan brand’ yang diperjuangkan selama ini, dengan menguji seberapa berartinya brand tersebut di mata stakeholders.

Ada berbagai pendekatan untuk mengevaluasi kesehatan brand. Ada cara 'jalan pintas' versus 'penelusuran secara seksama'. Oleh karena layanan dalam pendidikan tinggi ini bersifat jasa yang mempunyai multiple stakeholder, maka jalan pintas tidak direkomendasikan. Pendekatan Ethnography Marketing yang dipilih dalam riset dalam rangka rebranding ini merupakan jalan panjang penelusuran untuk memahami konsumen secara holistik dari berbagai sudut dan perspektif.

Dalam hal ini, IPB melalui profesional telah melakukan rangkaian penelusuran data primer maupun sekunder dengan berbagai teknik yaitu workshop internal dengan tokoh kunci, wawancara mendalam dengan future students, orang tua, guru-guru di sekolah, dan melibatkan tokoh kunci di institusi, baik dalam diskusi terpisah secara individu maupun diskusi terfokus dalam kelompok.

Hasil kajian ilmiah tentang perubahan brand IPB tersebut sudah disampaikan dalam berbagai pertemuan dengan stakeholder, termasuk dalam rapat Senat Akademik. Nama IPB University dan tagline baru ini sudah disahkan oleh Majelis Wali Amanat (MWA) IPB melalui Keputusan No 7/IT3.MWA/OT/2019 Tentang Pengesahan Rebranding Dengan Nama IPB University.

Sejak kapan inisiasi perubahan nama dilakukan?

  • Pada masa Rektor Prof.Dr.Ir. Andi Hakim Nasution ” (1978-1987), sudah tercetus rencana perubahan nama menjadi Universitas Ilmu Pengetahuan Bogor, disingkat “Universitas IPB”.
  • Di masa Rektor Prof.Dr.Ir. Aman Wirakartakusumah (1998-2002), sudah dilakukam kajian untuk perubahan menjadi universitas.
  • Di masa Rektor Prof. Dr. Ir. Herry Suhardiyanto (2007-2017), disampaikan mandat berupa Ketetapan Majelis Wali Amanat (MWA) kepada Rektor untuk melakukan pengkajian perubahan nama.
  • Pada masa Rektor Dr. Arif Satria,  sejak tahun 2018 telah dilakukan kajian perubahan nama dalam bingkai rebranding.

 

Tahapan apa saja yang sudah dilakukan IPB untuk mendapatkan brand baru yang lebih komunikatif?

  • Internal Insights: Pengumpulan insight dari stakeholder internal.
  • External Insight: Pengumpulan insight dengan wawancara dari stakeholder eksternal.
  • Menerjemahkan insight yang didapat untuk repositioning dan renaming.
  • Sosialisasi brand baru ke stakeholder internal dan eksternal.
  • Secara bertahap mengimplementasikan brand baru ke dalam berbagai produk marketing communication (website, buku profil, kartu nama, merchandise, dan lain-lain).

 

Apakah motto/tagline IPB juga berubah?

Ya. Motto/tagline yang sebelumnya adalah “Mencari dan Memberi yang Terbaik (Searching and Serving the Best)” dirasakan sudah menjadi sebuah keharusan dan kekuatan Institusi. Untuk menghadapi persaingan yang semakin ketat, maka IPB University merasakan kebutuhan untuk memiliki janji baru yang lebih distinctive, berbeda dari universitas lain. Hasil riset dan diskusi dengan para stakeholder kunci diperoleh sebuah rangkaian kata janji baru yaitu: “Inspiring Innovation with Integrity” (versi pendek), dan versi panjangnya adalah “Inspiring Innovation with Integrity in Agriculture, Ocean, Biosciences for a Sustainable World”.

 

Motto/tagline ini memberikan penegasan terhadap diferensiasi dibandingkan perguruan tinggi lain:

  • Inspiring: mencerahkan, memberikan ide
  • Innovation: inovasi yang handal, bisa digunakan dan diterapkan
  • Integrity: pribadi yang jujur dan memiliki karakter kuat (nilai-nilai moral tinggi)

Ketiga kata kunci ini telah diaplikasikan dalam pengembangan keilmuan di aspek pertanian, kelautan, biosains untuk mewujudkan kehidupan yang berkelanjutan.

 

Apakah nama IPB University juga akan digunakan dalam dokumen resmi seperti ijazah, transkrip, dokumen kepegawaian dan sebagainya?

Seluruh dokumen resmi yang terkait dengan negara, tetap akan menggunakan nama “Institut Pertanian Bogor” sebagai nama resmi institusi sebagaimana tercantum dalam Peraturan Pemerintah (PP) No 66 Tahun 2013 tentang Statuta Institut Pertanian Bogor. Namun untuk kepentingan komunikasi internal dan marketing communication akan digunakan sebutan “IPB University”.

 

Bagaimana dengan dokumen-dokumen untuk keperluan internasional seperti akreditasi, jurnal, dan lain-lain?

Seluruh dokumen yang terkait dengan keperluan internasional, per 1 Juli 2019 sudah harus menggunakan nama “IPB University”. Pengenalan nama baru ini di tingkat global akan melalui proses transisi. Selama masa transisi, penulisan afiliasi lembaga dalam penulisan karya ilmiah atau manuscript  jurnal internasional menjadi:  IPB University (Bogor Agricultural University). Cara penulisan seperti ini juga akan dipakai dalam proses-proses pengumpulan data perankingan dunia dan indeksasi Scopus.

 

Mengapa kata “University” dipilih untuk menggantikan kata “Institut” yang selama ini sudah melekat di IPB?

Sejak lama telah berlangsung dualisme dalam terjemahan Institut Pertanian Bogor ke dalam Bahasa Inggris. Walaupun terjemahan yang lebih sesuai adalah “Bogor Agricultural Institute”, namun sudah lama IPB menggunakan  “Bogor Agricultural University”. Bahkan ada juga yang menuliskan sebagai Institut Pertanian Bogor.  Perbedaan ini seringkali membuahkan kebingungan dalam penulisannya sebagai afiliasi lembaga dalam jurnal internasional.

Alasan mengapa dipilih kata University, diawali dari pemikiran bahwa telah lama IPB berkembang dan menawarkan program studi yang lebih banyak dan luas dari waktu ke waktu. Oleh karenanya, nama “IPB University” sebagai brand akan membangun asosiasi yang lebih luas dan menjanjikan value lebih tinggi.

Nama singkat  juga akan memberikan ruang lebih luas untuk berasosiasi dengan hal-hal yang bersifat kekinian dan modern.  Saat ini IPB tidak hanya merupakan singkatan, tetapi juga sebagai sebuah brand.  Ada sejumlah corporate brand yang menempuh strategi ini untuk tidak hanya memberikan simplicity dalam pengucapannya, tetapi juga agar lebih solid dalam exposure dan menjelaskan janji brand-nya. Untuk itulah yang dilakukan adalah mengubah brand “Bogor Agricultural University” menjadi “IPB University”.