ipbprinting - Memajukan UKM Indonesia

Di Belanda tak seorang pun mempercayai saya: Korban metode Westerling di Sulawesi Selatan 1946-1947

Bagikan:
  • Pustaka Obor Indonesia

Penulis

Rating

Harga

Maarten Hidskes

5.0

Rp. 80.000

Upload Desain

Deskripsi

Pada bulan Juli 1946 Piet Hidskes mendaftarkan diri sebagai sukarelawan pada Depot Speciale Troopen (DST, Depot Pasukan Khusus), korps elite dari Koninklijke Nederlansch-Indisch Leger (Pasukan Hindia-Belanda) di bawah komando Kapten Westerlingyang menerima carte blanche untuk menumpas pemberontakan di Indonesia dan melakukan aksi-aksi pembersihan. Setelah mengikti pelatihan selama enam bulan, Hidskes ditempatkan di Sulawesi Selatan. Dia kemudian terlibat dalam ‘Peristiwa Sulawesi Selatan’. Hidskes tidak menceritakan kepada siapapun apa yang terjadi di sana. Siapa yang akan mempercayainya?

Ketika dia meninggal dunia pada tahun 1992, cerita itu dia bawa masuk ke liang lahat. Kenapa dia selama lima puluh tahun membungkam diri tentang semua pengalamannya di Sulawesi Selatan? Sejauhmana keterlibatannya dalam pelaksanaan aksi-aksi pasukan Westerling dilakukannya dengan sukarela?

Anaknya, Maarten Hidskes, memutuskan untuk menyelidiki peran ayahnya di Sulawesi sampai mendasar. Dia mendapatkan kepercayaan dari beberapa mantan tentara komando dari regu pasukan ayahnya, menganalisis surat-surat yang dikirim ayahnya dari Hindia, dan mempelajari laporan-laporan intelijen tentang teror di Sulawesi. Dengan cara yang mengharukan, Maarten berhasil menyusun rekonstruksi masa lalu perang dari ayahnya.

img-

Di Belanda tak seorang pun mempercayai saya: Korban metode Westerling di Sulawesi Selatan 1946-1947

  • Pustaka Obor Indonesia
  • Rp. 80.000
Bagikan:

Deskripsi

Pada bulan Juli 1946 Piet Hidskes mendaftarkan diri sebagai sukarelawan pada Depot Speciale Troopen (DST, Depot Pasukan Khusus), korps elite dari Koninklijke Nederlansch-Indisch Leger (Pasukan Hindia-Belanda) di bawah komando Kapten Westerlingyang menerima carte blanche untuk menumpas pemberontakan di Indonesia dan melakukan aksi-aksi pembersihan. Setelah mengikti pelatihan selama enam bulan, Hidskes ditempatkan di Sulawesi Selatan. Dia kemudian terlibat dalam ‘Peristiwa Sulawesi Selatan’. Hidskes tidak menceritakan kepada siapapun apa yang terjadi di sana. Siapa yang akan mempercayainya?

Ketika dia meninggal dunia pada tahun 1992, cerita itu dia bawa masuk ke liang lahat. Kenapa dia selama lima puluh tahun membungkam diri tentang semua pengalamannya di Sulawesi Selatan? Sejauhmana keterlibatannya dalam pelaksanaan aksi-aksi pasukan Westerling dilakukannya dengan sukarela?

Anaknya, Maarten Hidskes, memutuskan untuk menyelidiki peran ayahnya di Sulawesi sampai mendasar. Dia mendapatkan kepercayaan dari beberapa mantan tentara komando dari regu pasukan ayahnya, menganalisis surat-surat yang dikirim ayahnya dari Hindia, dan mempelajari laporan-laporan intelijen tentang teror di Sulawesi. Dengan cara yang mengharukan, Maarten berhasil menyusun rekonstruksi masa lalu perang dari ayahnya.

Produk terkait
Madiun 1948 PKI Bergerak
Madiun 1948 PKI Bergerak
Rp. 125.000
Malam Bencana 1965: Dalam Belitan Krisis Nasional Bagian 3
Malam Bencana 1965: Dalam Belitan Krisis Nasional Bagian 3
Rp. 125.000
Awal Kedirgantaraan di Indonesia
Awal Kedirgantaraan di Indonesia
Rp. 55.000
Kopra Makassar Perebutan Pusat dan Daerah
Kopra Makassar Perebutan Pusat dan Daerah
Rp. 60.000
Anatomy of The Jakarta Coup: October 1, 1965
Anatomy of The Jakarta Coup: October 1, 1965
Rp. 125.000
Bo' Sangaji Kai: Catatan Kerajaan Bima
Bo' Sangaji Kai: Catatan Kerajaan Bima
Rp. 95.000
Kudeta 1 Oktober 1965
Kudeta 1 Oktober 1965
Rp. 125.000
Malam Bencana 1965 Dalam Belitan Krisis Nasional: Bagian I Rekonstruksi dalam Perdebatan
Malam Bencana 1965 Dalam Belitan Krisis Nasional: Bagian I Rekonstruksi dalam Perdebatan
Rp. 95.000